Tak saling mengenal, tapi sama-sama mengharap ridha Allah.
Perjalanan ini tidak dimulai dengan pertemuan biasa, melainkan dengan ta’aruf—saling mengenal melalui perantara, dalam batasan syar’i yang dijaga.
Setelah istikharah dan memohon petunjuk kepada Allah, hati kami dimantapkan untuk melangkah lebih jauh. Hingga akhirnya kami dipertemukan dalam prosesi nadzhor, yang bukan hanya menjadi pandangan pertama, tetapi juga menjadi momen singkat untuk menyamakan arah langkah. Dalam perbincangan sederhana itu, kami menemukan bahwa visi, misi, dan cita-cita kami selaras—membangun rumah tangga yang tak hanya penuh cinta, tapi juga bernilai ibadah.
Lalu khitbah menjadi janji awal yang mengikat—bukan hanya antara dua insan, tetapi juga antara dua keluarga yang saling percaya dan mendoakan.
Perjalanan ini terasa begitu cepat. Walau tak sepenuhnya tanpa ujian, ada saja kerikil yang mewarnai langkah kami. Namun, dengan izin Allah, satu per satu pintu kemudahan terbuka. Dia mudahkan segala yang sulit, dan lapangkan jalan yang terasa sempit.
Dan kini, dengan segala rasa syukur, kami menuju hari di mana ikatan itu akan sah dan penuh berkah : pernikahan.
Semoga ini menjadi awal dari ibadah panjang yang penuh cinta, sakinah, dan rahmat-Nya hingga ke Jannah.
Semoga Allah Ta’ala menghimpun keduanya menuju kebaikan, memberkati mereka berdua dan Allah ta’ala meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu rahmat, serta sumber ilmu bagi kaum muslimin.
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
“Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan”
(HR. Abu Dawud no. 2130)