Benar kata mereka, takdir menjadi alasan pertemuan. Sebuah perjalanan panjang yg berujung dengan kalimat “bertemu kembali di titik terbaik menurut takdir”, sepertinya semesta memang sengaja merangkainya.
Seperti pecahan kaca, kami mencoba kembali saling serangkai, menembus sekat, hingga dekat. Perjalanan kali ini membuat kami merasa utuh dan tumbuh.
Ragu pernah jadi bayang, tapi keteduhan dan sandaran adalah penolong dalam genggaman.
Kini kami adalah tuan dan puan dengan sisi ego dan kosong yg bertapak diatas permulaan menuju tujuan. Bersama, kami berlayar🤍