




Kami jatuh cinta bukan karena hal-hal besar, melainkan karena kesamaan sederhana yang perlahan menyatukan langkah. Kami menyukai banyak hal yang sama. Dan tanpa disadari, kebahagiaan tumbuh saat kami saling mengikuti jalan yang sama. Bukankah rumah tangga berjalan karena adanya kesetaraan? Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Rum: 21, pasangan diciptakan agar hati merasa tenteram, dan di antaranya tumbuh kasih serta sayang.
Cinta tidak pernah terhalang oleh sekat perbedaan. Jawa dan Aceh pun dapat menyatu dalam harmoni, ketika keduanya dipertemukan pada titik kesamaan pemikiran serta lingkungan yang selaras. Komitmen untuk menikah bahkan telah terucap sejak empat hari pertama perkenalan. Namun, dengan kesadaran penuh, kami memilih untuk terlebih dahulu menuntaskan cita-cita yang sudah dimulai, agar kelak pernikahan dijalani dengan kesiapan lahir dan batin.
Setelah empat tahun menjalin komitmen, dengan penuh syukur kami mantapkan langkah dalam ikatan suci. Hari ketika janji terucap, cinta diikat, dan perjalanan baru dimulai—menuju ridha Allah, dengan harapan kelak kami dipertemukan kembali dalam surga-Nya, di bawah naungan kasih-Nya dan syafaat Nabi Muhammad ﷺ.