Awal masuk SMAKBO, kami cuma teman sekelas biasa. Tapi praktik Gravimetri mempertemukan kami di salah satu loker. “Suami Gravi” begitu kami menyebutnya. Dari saling pinjam alat hingga curi-curi tawa di tengah bau reagen, kedekatan perlahan tumbuh. Tanpa sadar, loker kecil itu diam-diam menyimpan awal kisah kami.
Setahun berlalu. Banyak hal berubah, tapi satu yang tumbuh perlahan—ialah perasaan. Skype menjadi saksi awal mula kisah kami. Butuh waktu dan keberanian, tapi akhirnya kami mulai saling membuka hati. Masa PDKT penuh deg-degan dan tawa kecil itu berujung pada momen manis di 15 Juli 2014, hari dimana kami resmi menjadi pasangan. Dari teman satu kelas, jadi teman satu hati.
Lulus dari SMAKBO, kami terpisah: Sasa ke IPB, Garry ke UGM. LDR jadi tantangan, tapi juga bukti. Meski jarak panjang dan waktu sibuk memisahkan, hati kami tetap saling memilih. Bahkan setelah kuliah pun, rindu masih jadi keseharian kami. Dalam setiap ujian, tugas, dan malam sunyi, ada janji diam-diam di hati kami: tetap bertahan, sekuat mungkin.
Setelah lebih dari satu dekade bersama, dari loker kecil hingga kampus yang berbeda, dari remaja hingga dewasa, kami melewati banyak hal. Tawa, tangis, rindu, dan perjuangan. Sampai akhirnya, 15 Februari 2025, Garry mengambil langkah besar. Dengan penuh keyakinan, Garry melamar Sasa. Kini, kami siap membuka lembaran baru, bukan lagi sebagai pasangan LDR, tapi sebagai suami istri. Siapa yang kira, kalau dari suami Gravi ternyata jadi suami seumur hidup.